Cara Perusahaan Sandiaga Mencekik Warga Jakarta, Aetra Bidik Keuntungan Rp1Triliun

6878
Recapital adalah induk Aetra, perusahaan pengelola air minum milik Sandiaga Uno

PT Aetra Air Jakarta, perusahaan milik Sandiaga Uno langsung menyiapkan rencana bisnis yang cukup spektakuler paska pilkada 19 April2017. Mereka membidik pendapatan sepanjang tahun ini mencapai Rp1,25 triliun atau meningkat dari realisasi pada 2016 yang mencapai Rp1,17 triliun.

Aetra sangat bermasalah dengan pemenuhan kebutuhan air minum Jakarta, Masalah pertama dan paling utama adalah pemenuhan demand Air Minum DKI Jakarta yang sangat rendah, berkisar 40% saja dari total kebutuhan air minum (data dari AMRTA Institute 2015).

Masalah besar yang kedua adalah harga beli masyarakat. Harga air PAM di Jakarta per kubik Rp 8.359 yang mana sangat jauh dibandingkan kota besar kedua di Indonesia yaitu Surabaya yang hanya Rp 2.800 dan pemenuhan demand ke masyarakat mencapai 95%. Artinya, semua warga Surabaya menikmati air bersih dari PAM dengan harga yang sangat terjangkau karena penyaluran air di Surabaya tidak melalui swasta seperti Jakarta.

Baca: Gurita Perusahaan Air Sandiaga dan Mahalnya Air Bersih di Jakarta

Wakil Presiden Direktur PT Aetra Air Jakarta Bano Rangkuty mengatakan pihaknya optimistis target pendapatan tersebut akan tercapai seiring terus dilakukannya peningkatan kinerja perseroan.

Adapun, untuk laba bersih pihaknya membidik Rp308 miliar sepanjang 2017 atau meningkat dari realisasi pada 2016 yang mencapai Rp280 miliar.

“Sepanjang tahun ini kami banyak melakukan peningkatan kinerja sehingga akan berdampak positif terhadap pendapatan perusahaan,” paparnya di sela-sela merayakan hari jadi Aetra yang ke-9, Kamis (20/4).

Sepanjang 2016, selaku perusahaan swasta mitra pemerintah yakni PD PAM Jaya, Aetra telah mendistribusikan air bersih mencapai 308 juta meterkubik ke seluruh wilayah cakupan di wilayah Timur Jakarta, sebagian Jakarta Utara, dan sebagian Jakarta Pusat.

Distribusi tersebut melalui sistem perpipaan sepanjang 6.196 kilometer. Sementera itu untuk volume air yang terjual, perseroan telah membukukan penjualan sebesar 175,6 juta meterkubik.

Selain itu, sepanjang 2016 juga perseroan telah menambah jaringan perpipaan sepanjang 23 kilometer sebagai upaya menambah cakupan pelayanan di wilayah operasional Aetra.

Dari jumlah pelanggan, Aetra sepanjang 2016 mencatat telah memiliki pelanggan baru mencapai 13.257 sehingga total pelanggan mencapai 435.777 yang terdiri dari 429.573 reguler dan 6.204 pelanggan komersial.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Aetra Air Jakarta Mohamad Salem mengatakan dalam tiga tahun ke depan perseroan akan membayar shortfall atau kekurangan pembayaran imbalan air mencapai Rp150 miliar.

Shortfall tersebut, kata dia, awalnya sebesar Rp330 miliar yang merupakan akumulasi dari 1998 hingga 2012 sesuai perjanjian kerja sama. Namun, pihaknya setiap bulan mencicil pembayaran shortfall hingga beban yang dibayarkan secara bertahap berkurang.

Pihaknya memastikan dalam tiga tahun ke depan tidak ada shortfall lagi yang harus dibayarkan seiring kinerja yang diklaim lebih baik yang dikerjakan perseroan selama ini.

“Dan kami juga pastikan pembayaran shortfall ini tidak mengganggu laba. Kalau dulu iya setiap bayar utang, laba kami terganggu karena kinerja perusahaan belum membaik, kalau sekarang di atas laba kami masih ada uang khusus untuk bayar utang,” paparnya.

Salem menambahkan untuk sepanjang tahun ini pihaknya menargetkan penambahan pelanggan baru mencapai 18.000 di seluruh daerah operasional Aetra dan memproyeksikan penjualan air bersih lebih dari 185,7 juta meterkubik.

Adapun, khusus untuk investasi sepanjang tahun ini Aetra menggelontorkan modal sekitar Rp145 miliar yang akan digunakan untuk penambahan volume sebesar 10,7 meterkubik dengan anggaran mencapai Rp17 miliar.

“Lainnya investasi Rp51 miliar untuk mengurangi tingkat kehilangan air dengan perbaikan jaringan pipa sekunder dan tersier serta Rp31 miliar untuk peningkatan produksi air bersih,” paparnya.

(jakartabisnis/gerpol)