Di Kota Asal Jusuf Kalla Ini, Aksi untuk Ahok Diserang FPI, Ada Order?

4269
Aksi solidaritas untuk Ahok dibubarkan massa. (Muhammad Nur Abdurrahman/detikcom)

Aksi bakar lilin untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang digelar di depan Rumah Sakit Stella Maris, Pantai Losari, Makassar, dibubarkan oleh massa FPI Sulawesi Selatan dan HMI Cabang Makassar, Sabtu malam (13/5/2017).

Beruntung aparat dari Polrestabes Makassar dan TNI ikut mengawal aksi hingga tidak terjadi keributan antar dua kelompok massa tersebut. Massa FPI melarang warga Makassar yang ingin menggelar “Malam 1.000 Lilin untuk Ahok” yang digelar di dalam kawasan anjungan Pantai Losari.

Baca: Ahok Menjadi Pusat Perhatian Dunia, Ini Liputan Media-media Internasional atas Kasus Ahok

Ketua HMI Cabang Makassar Muwaffiq Nurimansyah yang ikut memimpin aksi kadernya menyebutkan kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok di Jakarta tidak semestinya didramatisir dan melebar hingga melibatkan warga Makassar.

“Kasus Ahok ini kasus pidana dan personal, jangan dibawa-bawa ke sentimen agama karena bisa memancing isu SARA. Jangan lagi bikin kegiatan 1.000 lilin untuk Ahok, kami akan padamkan,” pungkas Muwaffiq.

Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto turun tangan menengahi kedua kelompok agar tidak terjadi bentrokan. Ramdhan mengaku aksi dukung Ahok ini hanya menyebar di sosial media dan tidak memiliki izin dari pihak kepolisian. Ia juga mengaku tidak ada kelompok ormas yang melaporkan bertanggung jawab pada aksi ini.

“Masyarakat Makassar yang dewasa, bisa dilihat dalam tensi tinggi, tetap bisa berpikir rasional, kita tidak boleh terprovokasi, semuanya bersaudara, jangan ternoda oleh kepentingan yang tidak kita pahami sebenarnya apa. Rencananya kami akan bikin pertemuan tokoh lintas agama,” ujar Ramdhan.

Sementara itu, menurut warga Makassar pendukung Ahok, Jefriar Dunda menyesalkan adanya pembubaran aksi solidaritas untuk Ahok dari kelompok FPI.

“Kita datang mau ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya kenapa dibubarkan? Kita tidak bawa-bawa persoalan agama, karena kita ini hidup di negara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” kata Jefriar.

(detikcom/gerpol)