Di Mana Integritas Eep Saefulloh Fatah Ketika Ia Menyerukan Politisasi Masjid

1010150
Eep Saefulloh

Saat ini beredar luas, video yang menampilkan Eep Saefullah Fatah mengkampanyekan penggunaan masjid untuk menjatuhkan Ahok.

Eep adalah konsultan politik yang dibayar tim Anies-Sandi. Tentu saja ia berkewajiban merumuskan strategi kampanye untuk memenangkan paslon yang membayarnya.

Tapi strategi yang ia kembangkan menunjukkan ia tidak memiliki integritas moral.

Rupanya Eep adalah orang yang bertanggungjawab atas kampanye anti Ahok di masjid-masjid. Dalam video itu secara jelas terlihat bahwa Eep menyerukan peserta untuk mengikuti jejak keberhasilan Partai FIS di Aljazair, yaitu dengan berkampanye lewat masjid.

Menurut Eep, strategi itu berhasil di Aljazair. Karena itu, ia menyerukan agar hal serupa dilakukan di Indonesia.

Buat saya, ini bermasalah karena Eep sebenarnya adalah seorang ilmuwan politik yang semestinya sadar bahwa dalam politik, ada etika dan moral. Memenangkan pertarungan politik tidak boleh dilandasi prinsip ‘tujuan menghalalkan cara’. Pilihan strategi semacam itu seharusnya hanya dilakukan para politisi busuk yang memang melihat kekuasaan sebagai segala-galanya, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan orang banyak. Sebagai ilmuwan, Eep seharusnya tahu bahwa pilihan itu adalah jalan kotor.

Sebagaimana dikatakan Anies di awal kampanye, perebutan kursi Gubernur seharusnya dilakukan melalui pertarungan gagasan, pertarungan program. Anies dan Eep sebenarnya tahu bahwa pemerintahan yang baik hanya akan terwujud bila dalam proses pemilihannya, masyarakat memilih berdasarkan pengetahuan mereka mengenai siapa yang dianggap memiliki kemampuan lebih baik untuk menata pemerintahan dalam cara yang akan membangun kesejahteraan rakyat bersama.

Eep pasti tahu proses politik yang sehat tidak akan berlangsung dalam kampanye melalui masjid.

Eep tahu bahwa kampanye di masjid itu tidak akan mendidik masyarakat untuk berpikir rasional tentang calon pemimpin mereka.

Eep tahu bahwa kampanye di masjid hanya akan diisi indoktrinasi para pemuka agama yang sebagian besar tidak punya pemahaman cukup tentang pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang efektif, pemerintahan yang pro pada kepentingan rakyat.

Eep tahu bahwa kampanye di masjid tidak akan diisi diskusi, tukar gagasan, dan tukar pandangan. Yang terjadi hanyalah komunikasi satu arah.

Eep tahu bahwa kampanye di masjid akan banyak diisi oleh para ustad karbitan dengan pengetahuan keagamaan terbatas yang akan menyuarakan kebencian atas nama Islam terhadap Ahok dan para pendukungnya

Eep tahu bahwa kampanye di masjid berpotensi mendorong perpecahan antara jemaah masjid yang mungkin sangat mungkin berbeda pilihan politik.

Eep tahu bahwa kampanye di masjid adalah sebuah bentuk penjualan agama dengan harga murah.

Baca:

Eep tahu itu semua dan toh ia menjadi mastermind dari itu semua.

Ini menyedihkan karena Eep semula dikenal sebagai ilmuwan politik yang kritis, memperjuangkan pemerintahan bersih, memperjuangkan pluralitas, menentang bentuk-bentuk kekerasan atas nama agama.

Kini ia tinggalkan semua prinsip itu semata-mata karena ia adalah konsultas untuk Anies. Kini ia tinggalkan integritasnya karena ia dibayar.

Saya mengenal Eep sejak ia semasa ia menjadi mahasiswa di FISIP UI. Dia dulu adalah bintang yang bersinar karena kepintarannya. Ia dikagumi ketika menjadi dosen muda yang brilian. Ia memang tidak menempuh pendidikan tertinggi karena alasan-alasan keluarganya. Namun ketika ia pindah menjadi konsultan politik dan meninggalkan posisi dosennya, masih banyak yang berharap ia akan menjadi konsultan politik yang tetap mempertahankan integritasnya. Orang semula berharap Eep bisa menjadi teladan.

Kini, semua harapan itu sirna. Ia menjadi konsultan politik biasa yang menomorsatukan kepentingan kliennya. Ia tidak peduli dnegan nasib bangsa.

Dengan kata lain, Eep sudah kehilangan integritas.

Ade Armando

(gerpol)