Mampus! Rizieq Tewas di Suriah setelah Melakukan Aksi Bom Bunuh Diri

1634
Rizieq Tewas di Suriah. (Sumber: tirto.id)

Pada hari Senin (5/6) sebuah truk yang telah dimodifikasi jadi SVBIED (Suicide Vehicle-borne improvised explosive device) merangsek masuk mendekat pada sebuah pos pemeriksaan militer yang dikendalikan oleh Angkatan Darat Arab Suriah (SAA) di selatan kota kuno Palmyra. Si pelaku lalu meledakan bom berdaya ledak besar.

Sehari kemudian media resmi ISIS, Amaq Agency mengklaim bertanggung jawab. Mereka pun merilis detail serangan itu.
Mereka juga merilis sebuah foto pelaku dengan latar belakang SVBIED yang dipakainya.

Wajahnya berparas Asia Tenggara. Kulitnya coklat dan kumisnya klimis tipis. Surban kefiyeh merah dililitkan ke kepala, namun tidak menutupi wajahnya. Ketika difoto Senapan AK-47 ditempelkan ke dada, tangan kanannya menunjukan simbol satu jari. Di keterangan foto, Amaq merilis bahwa sosok ini bernama Rizieq Al-Indonesi. Dari nama belakangnya sudah pasti dia berasal dari Indonesia.

Ia tidak beraksi sendirian. Amaq melansir serangan bom mobil sama dilakukan milisi asing, yakni Zaid dari Kosovo.

Ini bukan kali pertama Amaq menampilkan WNI yang rela melakukan bom bunuh diri di Suriah. Pada pertengahan Maret lalu, operasi VBIED dilakukan oleh WNI bernama Abu Muhammad Al-Indonesi.

Berita ini jadi heboh akibat nama ini disebut sebagai nama samaran Bahrumsyah – pentolan ISIS asal Indonesia. Namun setelah Tirto melakukan cross check, sosok tewas itu bukanlah Bahrumsyah yang dimaksud.

Sama seperti Rizieq, Abu Muhammad juga tewas saat bertempur di Tadmur, Palmyra. Kota Palmyra sempat jatuh ke tangan ISIS pada Mei 2015. Namun pada Maret 2016, berkat dukungan Rusia, pemerintah Suriah sukses kembali merebut Palmyra.

Secara mengejutkan ISIS melancarkan serangan masif dan mendadak hingga kota ini kembali jatuh ke tangan mereka pada Maret 2016. Serangan ini tidak diduga pemerintah Suriah karena pada saat yang sama sedang ISIS kepayahan bertempur mempertahankan Mosul dan Raqqa. Saat ini ISIS memang sudah diusir dari Palmyra, namun mereka tetap melakukan perlawanan sengit dan menguasai wilayah daerah terluar bagian timur. Palmyra memiliki strategi vital sebagai jalur logistik menuju Deir Ezzor – satu-satunya kota di wilayah timur yang dikuasai oleh pemerintah Suriah.

Pemerintah Indonesia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mengaku kesulitan mendata berapa banyak kombatan Indonesia di Irak atau Suriah yang masih hidup.

“Datanya gak ada yang pasti, kami kesulitan mengkonfirmasinya karena jaringan ISIS itu tertutup sekali,” kata Deputi Kerja Sama Internasional BNPT, Hamidin kepada Tirto, Kamis (8/6).

“Saya pikir sekarang pasti berkurang. Pintu masuk ke sana agak susah. daerah perbatasan sekarang sudah tak lagi dikuasai ISIS,” ucap dia lagi.

Ketika dikonfirmasi ketersebaran WNI yang angkat senjata demi ISIS di Irak dan Suriah, Hamidin tidak mengetahuinya.

“Mereka tersebar tidak terkonsentrasi satu titik. Namun jika kita menilik kondisi umum yang terjadi, para kombatan ISIS saat ini terpusat untuk mempertahankan Raqqa,” kata dia.

(tirtoid/gerpol)