Membongkar Makar Ikhwanul Muslimin: PKS dan Eep Meninggalkan Jokowi, Menyingkirkan Sandi (Bagian-4)

1000868
Eep Saefulloh Fatah (duduk kedua dari kiri) tertutup tangan tokoh Wahabi Zaitun Rasmin, bersama Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Bakhtiar Nasir (GNPF-MUI), Al-Khaththath, Sekjen FUI

PKS dan Eep: Meninggalkan Jokowi – Menyingkirkan Sandi

PKS sudah menghitung, PILKADA DKI Jakarta akan menarik, PKS harus bisa menancapkan kuku politiknya di Jakarta. PKS dan pasukan sibernya terbukti ikut memanas-manasi reshuffle kabinet yang akhirnya membuat Anies terlempar keluar dan langsung disergap oleh PKS. Anies harus diisolasi. Jika tidak, PKS tidak akan mendapatkan apa-apa dari pertarungan PILKADA DKI Jakarta. Eep sangat yakin Prabowo dipastikan bakal maju lagi dalam Pilpres 2019, pertanyaannya dengan siapa Prabowo akan berpasangan? Jelas Sandiaga Uno bisa menjadi salah satu bintang yang bersinar mendampingi Prabowo. Bagaimanapun Sandiaga Uno adalah orang yang menemani Prabowo di masa-masa pasca Pilpres 2014. Kedekatan mereka sudah layaknya Bapak dan anak. Sebenarnya Ridwan Kamil menjadi salah satu anak emas Prabowo, namun Ridwan Kamil menolak untuk maju di Pilkada DKI Jakarta. Semua orang harus ingat, surat terbuka Ridwan Kamil mengenai “ada kekuatan yang hendak menggunakan isu etnis dan agama untuk meraih kemenangan di Pilkada DKI Jakarta.”

Baca: Membongkar Rencana Makar Ikhwanul Muslimin: Eep Sang Boneka (Bagian-1)

Bagaimanapun Prabowo Subianto melihat Jakarta sebagai salah satu pijakan penting menuju 2019. Dia tidak khawatir dengan perolehan suara Gerindra, namun semua mata tertuju ke Jakarta, apalagi Ahok membangun banyak sekali perubahan di Jakarta. Prabowo adalah penganut strategi politik dengan perang total. PKS sudah melihat kedekatan Prabowo dengan Sandi, sehingga Eep lalu ditugaskan untuk merapat ke Sandi. Prabowo masih mencium aroma mencurigakan dengan merapatnya Eep. Prabowo adalah prajurit khusus dengan karir yang cemerlang, dia bisa mendeteksi datangnya bahaya. Prabowo merasa Eep bukan orang yang tepat, terlebih Eep pernah membantu rival politiknya saat Pilpres 2014. Maka dimulailah skenario mengisolasi Prabowo dan memisahkan Sandiaga dengan Prabowo.

Baca: Membongkar Rencana Makar Ikhwanul Muslimin: Eep dan PKS Duri dalam Daging (Bagian-2)

Eep sebagai boneka segera diminta berkemas dan meloncat keluar dari gerbong Jokowi. Ini dibutuhkan  untuk meyakinkan Prabowo bahwa Eep bukanlah diutus Jokowi untuk menggagalkan kemenangan Gerindra di Jakarta. Kesempatan itu datang tidak lama, Januari 2015 Bambang WIdjajanto ditangkap oleh Kepolisian. Eep dan pasukan siber PKS menghujani Jokowi dengan kritikan tajam. Eep benar-benar menunjukkan bahwa dirinya sudah berseberangan dengan Jokowi.

Strategi PKS yang lain sedang berjalan, PKS melihat upaya Golkar merapat ke istana. Apalagi seiring tekanan pada performa Jokowi dan menteri-menterinya. PKS mengindikasikan akan bergabung dengan pemerintah jika terjadi reshuffle. PKS hendak menahan agar tekanan berlangsung semakin lama, bagaimanapun tidak mudah untuk mengelola power sharing diantara partai Koalisi Indonesia Hebat (KIH). PKS melihat konflik Golkar adalah momentum penting untuk memuluskan jalan menduduki Jakarta. Melihat ruang itu, PKS mulai mengirim sinyal bersedia untuk bergabung dengan pemerintahan Jokowi. PAN yang sedang mencari muka sebagai pendatang baru di Koalisi Pemerintah menjadi corong yang baik. PKS hanya mengacak peta koalisi, sambal mengukur tawaran yang ingin diajukan Jokowi. Zulkifli Hasan menjadi korban, reputasinya hancur dihadapan Megawati Soekarnoputri dengan mengatakan memastikan bahwa PKS bersedia bergabung, pelakunya adalah Eep dan Sohibul Iman.

Baca: Membongkar Makar Ikhwanul Muslimin: Eep Kuda Troya PKS Mengalahkan Jokowi-JK (Bagian-3)

Eep membawa keluar peta koalisi pemerintahan Jokowi, termasuk anatomi keterhubungan antara parpol koalisi, tokoh-tokoh kunci, bahkan jaringan relawan pendukung Jokowi. Ini yang digunakan PKS untuk mengacak partai-partai menjelang pencalonan Ahok lalu akhirnya membuat Boy Sadikin keluar dari PDIP dan bergabung ke Anies. Nasib Anies sudah diketahui PKS, bagaimanapun mendekati orang yang sakit hati jauh lebih mudah ketimbang orang yang hidup dan mentalnya normal. Anies menerima tawaran PKS, lalu dibawa sebagai seserahan kepada Prabowo. Sandi dengan segala kepolosannya menerima posisi Cawagub dan memberi jalan pada Anies. Prabowo meyakinkan Sandi bahwa jika kelak dia berhasil menjadi Presiden bersama Anies, maka kursi Gubernur DKI Jakarta akan jatuh pada Sandi.

Abdulbaki Sahrowi, Pengamat Politik Asia dan Timur Tengah, tinggal di Paris

(bersambung) (gerpol)