Menepuk Isu SARA Terciprat Muka Anies dan Sandi

501885
mANIES berSANDIwara

Banyak respon netizen atas himbauan Anies untuk berhenti memfitnah pakai isu SARA. Sayangnya kebanyakan responnya adalah respon negatif.

Respon negatif tersebut sebenarnya tidaklah mengherankan jika kita mengingat rekam jejak Anies Baswedan selama kampanye Pilkada DKI ini. Sebab sejak awal Anies Baswedan sudah menggandeng kelompok radikal yang jelas2 mengusung isu SARA dalam Pilkada DKI ini.

Dan ketika kampanye menjadi sedemikian brutalnya, dimana isu SARA dimainkan dengan cara yang paling buruk. Anies Baswedan diam saja. Bukan saja diam, Anies Baswedan malah terkesan menikmati kampanye isu SARA itu selama menguntungkan dirinya.

Dan ketika kampanye SARA makin brutal dan menunjukkan wajah yang paling menjijikan, Anies Baswedan tetap diam meski banyak masukan untuknya.

Setelah larangan men-sholatkan jenazah itu memukul balik kubu Anies yang ditandai dengan banyaknya protes, barulah Anies Baswedan bersuara. Himbauan yang dilakukan setelah cara kampanye tersebut memukul balik dirinya sendiri. Sebelum itu, dia diam dan cenderung menikmati.

Hal serupa sekarang terjadi lagi terkait spanduk Perda Syariah. Anies baru bersuara setelah kampanye tersebut memukul balik dirinya. Sementara kita tahu betul sejak awal kampanye pilkada Anies aktif mendekati golongan yang rajin menyuarakan hukum Syariah diterapkan di NKRI.

Dan sejak dicalonkan sebagai Calon Gubernur DKI Anies Baswedan sudah bukan lagi Anies yang dulu gigih menyuarakan toleransi. Anies Baswedan yang sekarang dipandang banyak pihak sebagai Anies yg pragmatis bahkan cenderung oportunis. Yang dengan sukarela mencari muka pada golongan radikal yang pada awalnya dianggap mampu memuluskan jalannya ke DKI 1.

Dengan kata lain Anies Baswedan sudah tidak punya legitimasi moral lagi untuk bicara tentang toleransi dan kebinnekaan. Dan ketika masyarakat menjadi begitu muak dengan kampanye SARA tersebut, mendadak Anies balik badan bicara lagi tentang toleransi. Siapa yang percaya?

Anies yang kita kenal saat ini adalah Anies yang lekat dengan kaum intoleran dan menggunakan isu SARA untuk mencapai tujuannya. Itu adalah ‘branding’ yang tercipta akibat strategi kampanye Anies Baswedan sendiri. Hidup adalah pilihan.

Dan ketika kampanye dengan membakar isu SARA itu akhirnya merugikan dirinya sendiri maka Anies Baswedan tak bisa begitu saja cuci tangan. Sebab di benak pemilih nama Anies Baswedan dalam pilkada ini sudah melekat sebagai kubu radikal dan anti toleransi.

Suka tidak suka branding macam itu yang tercipta akibat pilihan strategi berkampanye Anies Baswedan sendiri. Dan ini yang terpenting. Tak pernah sekalipun dalam sejarah kita pengusung radikalisme dan intoleransi menang dalam pemilu/pilkada.

Jadi silakan Anies tetap konsisten dengan pilihan strategi kampanyenya. Silakan terus memanfaatkan golongan radikal untuk kemenangannya. Jangan mau enaknya saja. Memainkan isu SARA ketika menguntungkan lalu berbusa-busa teriak menghimbau jangan pakai isu SARA.

Sekian kultwit kami. Karma itu nyata adanya.

Oleh: PartaiSocmed

(gerpol)