Mereka Yang di Cina-cinakan Sudah Banyak Membuat Indonesia Bangga, Kamu?

3508
King of Indonesia

Terang lampu kamar lewat tengah malam, senyap suasana jelang dini hari, kembali membawa saya menulis surat untuk Bung A Hok. Entah kecemasan apa yang ada dalam pikiran, entah suara siapa yang menukas di telinga, saya tumpahkan isi hati dan benak penuh harap kepada bung di sel Mako Brimob.

Seolah-olah saat ini, bung adalah salah satu dari “Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam; Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian” dalam puisi Prajurit Jaga Malam karya Chairil Anwar. Demikianlah imajinasi saya akan gelagat jiwa berontak dari seseorang yang belum sebulan dipasung oleh ketidakadilan.

Sebuah imajinasi yang lahir dari pengalaman dua puluh tahun berselang ketika saya memasuki ruang sel isolasi Kejaksaan Agung. Kelam sepenuhnya menampak tetiba, dipaku regang amarah terbunyi dalam hati berulang-ulang. “Apa yang salah padaku demi kebenaran untukmu?”, demikian mungkin renung benak saya menampik kenyataan mendekam di bilik jeruji.

Tak ada jawab, tak tampak pula pertanda kejelasan sepanjang empat bulan berdomisili di sana, dan hampir tiga tahun sesudahnya di biara LP Cipinang. Hanya ada panggilan demi panggilan interogasi untuk meminta kejelasan dari saya tentang peristiwa 27 Juli dan apa itu Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Sudah pasti ketakutan menyergap di saat kelelahan fisik dan mental melanda. Tetapi tidak ada kata takluk demi keberanian memperjuangkan kebenaran. Seturut pengalaman saya itulah kebenaran tentang penting dan perlunya menggulingkan rejim Orde Baru. Sayang, hanya Soeharto yang turun dari kursi kekuasaannya. Struktur dan kultur birokrasi orde baru yang korup, logika otoritarian “pembangunan” orde baru yang masih berjalan hingga saat ini tak mudah untuk dibersihkan.

Saya pujikan bung A Hok untuk keberanian melawan korupsi. Pun ketekunan bung menangani banyak kerumitan birokrasi mulai dari tingkat RT RW sampai ke Balai Kota Jakarta. Takluk pada apapun, tak pernah jadi pilihan bung untuk menempa rakyat Jakarta membangun wilayahnya. Itu benar dan bagus, tapi bukan berarti mutlak sebenar-benarnya tanpa syarat reaksi. Lebih-lebih dalam dunia politik, reaksi terhadap kepemimpinan Bung belum semuanya menampak, tetiba saja Bung dikeroyok oleh banyak kekuatan politik. .

Anggaplah saja saat ini bung belum takluk, hanya istirahat sementara waktu guna menjadi yang baru. Seumpama Bisma yang tak tumbang walau tancap-tancap anak panah pasukan Pandawa sudah memenuhi sekujur tubuhnya dalam kisah pewayangan Mahabharata. Ia lalu memilih untuk beristirahat beralaskan anak panah, sembari meminta Arjuna menembakkan panahnya ke tanah untuk mata air minum baginya guna melihat segala tindak-tanduk manusia dalam tragedi Bharata Yuda. Bisma tak akan pernah mati, sepanjang mata air kehidupan tak dikeringkan oleh perang.

Suatu hari di kala saya belum mengerti benar soal-soal politik, tepatnya di masa usia sekolah dasar di Malang, saya tidak pernah mengira akan melihat sejumlah besar manusia berusia muda berjalan sempoyongan seperti menahan kelelahan. Banyak juga di antara mereka yang duduk-duduk di trotoar jalan sembari meluruskan kaki. Aroma minyak kayu putih, balsem, minyak angin begitu kuat mengudara ketika saya melewati tubuh-tubuh mereka. Ini masih ditambah lagi dengan aroma serak-serak sampah sisa makanan, plastik es mambo, dan sampah lain yang tak ingin saya sebutkan di sini. Itulah masa saat saya mulai mengenal kenyataan bahwa negeri ini tidak baik-baik saja.

Sesampai di rumah, saya tanyakan kepada ibu saya mengenai apa yang saya lihat di dalam perjalanan pulang sekolah. Beliau menjawab, “Ya itu calon mahasiswa baru mau daftar ke IKIP. Prosesnya lama. Satu orang bisa setengah jam dan cuma satu loket. Makanya Cina-cina itu banyak yang daftar ke swasta atau ke luar negeri”. Terus terang saat usia 9 tahun itu, saya tidak mengerti maksud jawaban ibu saya.

Baru belakangan, mungkin sekitar tahun 1994, saya mengerti apa maksud dari pernyataan ibu saya di muka. Saat itu saya untuk pertama kalinya mengurus paspor di Imigrasi Malang. Antrean cukup panjang, yang dilayani oleh tiga loket. Cukup lama untuk tiba giliran pada saya, terutama karena para pengaju paspor juga dari sejumlah travel biro yang menangani paspor-paspor TKI.

Katakanlah satu orang perwakilan Travel Biro menangani 20 formulir paspor. Karenanya saya sempat tertidur di kursi tunggu sebelum terjaga oleh suara keras dari arah loket:

“Kartu WNA nya mana?!”
Dalam keadaan mata setengah terpejam setengah terbuka alias “kriyep-kriyep” saya mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Tampak dua orang perempuan menghadap loket sedang berbicara dengan petugas loket. Dari penampilan dan perawakannya bisa terlihat bahwa mereka adalah warga etnik Tionghoa. Tak ada tindak-tanduk bahwa mereka hendak melakukan kekacauan.

“Iya Cik…. Ngerti… tapi nggak gitu aturannya…. Sampeyan ngerti nggak?!”, sergap suara keras dari dalam loket kembali menggema.

Sedari awal saya mengantre suara perbincangan antara pihak pelayanan imigrasi dengan warga pengaju paspor tidak ada volume suara keras terdengar. Mengapa tiba-tiba perlu ada nada hentak-menghentak ketika warga etnis Tionghoa mengajukan permohonan paspor?

“Apakah si petugas pelayanan imigrasi hendak meminta biaya tambahan di luar ketentuan?”, gelitik jahil isi benak saya. Entahlah, muncul kemudian bayangan bagaimana kesulitan teman-teman sekolah saya yang etnis Tionghoa jikalau berurusan dengan birokrasi pemerintah.

Salah seorang teman SMA, Hamzah, pernah bercerita:
repotnya lagi kl ada apa2, pihak kamilah yang selalu disalahkan secara umum,walaupun yang melakukan adalah seseorang saja…banyak hal ketakutan2 kami yang sering terjadi mulai zaman orba sampai sekarang……..ada berita demo, langsung yang punya toko pada bingung untuk segera menutup tokonya…..konyol….!!!! belum lagi diskriminasi untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi negeri,termasuk untuk memperdalam bidang keilmuan ( spesialis )……jangan salahkan kl banyak dari anak2 keturunan Tionghoa lebih memilih bersekolah di luar Indonesia…..

Pengalaman-pengalaman di muka kerap membawa saya pada pertanyaan “Apakah penting menjadi Indonesia?”. Toh apapun yang tampak indah dan mulia pada saatnya akan terbuang, dan bahkan dibuang dengan segala macam rasionalisasi ekonomi dan politik. Tetapi apabila saya berhenti pada pertanyaan tersebut, saya juga tidak akan dapat menjawab pertanyaan “Apa itu Indonesia?”

Sebenarnya pengenalan saya tentang Indonesia, dalam arti merasakan betul sebagai bangsa Indonesia bukan dari upacara-upacara tiap hari Senin di SD PPSP IKIP Malang, ataupun setiap tanggal 17 di SMP dan SMA. Tetapi itu bermula dari peristiwa-peristiwa olahraga yang saya lihat di televisi bersama ayah saya terutama pada periode akhir 1970an.

Pada masa itu, olah raga yang mendapat banyak perhatian masyarakat adalah badminton atau bulutangkis. Lebih-lebih para pemain bulutangkis Indonesia meraih banyak prestasi di tingkat Internasional. Bisa dikatakan saat itu Indonesia adalah raja bulutangkis dunia dan salah satu yang menjadi idola adalah Liem Swie King.

Pemain ini sangat bersahaja, tidak banyak bicara, tetapi saat bermain menurut ayah saya “sudah seperti pemain silat”, mengingat jump smash nya yang mematikan lawan. Apabila Liem Swie King tampil di TVRI dalam ajang bulutangkis internasional, jalanan kota Malang boleh dikata sepi. Sepertinya semua asyik menonton kepiawaiannya mengayun raket, berlari, melompat dan….smash!

“Yaaa…. Indonesia….!”, atau “Sikat King….sikat lagi!”, semacam itulah sorak-sorai dari rumah ke rumah, dari warung ke warung. Maklum masa-masa itu tidak banyak yang memiliki televisi, sekalipun televisi hitam putih, sehingga sebuah rumah atau sebuah tempat yang memiliki televisi menjadi tempat berkumpul masyarakat. Keriuhan yang khidmat semacam ini hanya bisa ditandingi oleh pertandingan tinju Mohammad Ali, sebagai siaran langsung TVRI.

Memasuki periode 1980an dominasi bulutangkis Indonesia mulai ditantang oleh India dan Cina. Liem Swie King sebagai pemain tunggal putra mendapat lawan-lawan kuat seperti Prakash Padukone dari India, dan Han Jian dari Cina. Dalam salah satu pertandingan final All England, turnamen bulutangkis bergengsi di Inggris, Liem Swie King berhadapan dengan Han Jian. Warga kota Malang, sudah dag-dig-dug apakah King bisa menang melawan Han Jian. Ini mengingat dalam beberapa pertandingan sebelumnya, King kelelahan melawan keuletan daya tangkis Han Jian mengembalikan semua jump-smash King.

Kala siang sebelum siaran pertandingan di malam hari, teman keluarga berkunjung ke rumah saya. Mereka berbincang-bincang dan bergurau sana sini dengan ayah ibu saya. Salah satunya yang sempat saya curi dengar dialog mereka:

“Bu Non, entik sing tanding sapa (nanti yang bertanding siapa)?”, suara tamu perempuan bertanya kepada ibu saya.

“Kalau nggak salah Liem Swie King lawan Han Jian yang ulet itu”, sahut ibu saya.

“Oooo….. lek gitu sing tanding Cina podo Cina e ya bu (kalau begitu yang bertanding Cina sama Cinanya)”, kata tamu perempuan itu sembari disambut tertawa lantang ibu saya.

“Lah kamu bukan Cina toh Von?”, kelakar ibu saya.

“Dulu ketokan e…. jaman e engkong e engkongku….(Dulu kelihatannya jamannya kakeknya kakek saya)”, sahut Vonny, si tamu perempuan sambil tertawa kecil. “Sekarang wes Indonesia… (Sekarang sudah Indonesia)”, demikian tambahnya.

Dialog kelakar itu perlahan-lahan membuat saya mengerti bahwa menjadi Indonesia adalah sesuatu yang sederhana, dan tidak perlu dibuat rumit dengan segala identitas yang melekat pada diri pribadi masing-masing. Sepanjang bisa saling menghargai satu dengan yang lain, tidak perlu ada gagasan untuk mencurigai yang lain berdasarkan etnik ataupun identitas lainnya.

Dialog itu pun di kemudian hari mengingatkan saya pada kesaksian Oei Tjoe Tat tentang dialognya dengan Soekarno, Presiden RI ketika memintanya menjadi menteri negara pada tahun 1963.

“Apakah nanti sebagai Menteri Republik Indonesia saya sebaiknya mengganti nama, dan apakah Presiden berkenan memilihkan nama baru saya?”, tanya Oei Tjoe Tat

“Wat? Je bent toch een Oosterling? Heb je gen respect meer voor je vader, die je die naam heft gegeven…” (Apa? Kamu kan orang Timur? Apa kamu sudah kehilangan hormat pada ayahmu, yang memberi kamu nama itu?)”, hardik Bung Karno kepadanya.

Pada tahun 1917, Tjipto Mangoenkoesoemo seorang pejuang kebangsaan, berusaha menengahi perdebatan antara Soetatmo Soeriokoesoemo dengan Liem Hian Koen tentang siapa yang bisa disebut sebagai bangsa Indonesia, atau bangsa Hindia sebutan di masa itu:
“kata bangsa Hindia ini termasuk juga peranakan Eropa dan juga peranakan Tionghoa.

Mereka ini sesudah dilahirkan di bawah lambaian nyiur lebih banyak dibesarkan oleh babu Sarinah daripada oleh ibunya sendiri, belum lagi disebutkan hal-hal yang acapkali terjadi, yaitu mereka yang dikandung dan dilahirkan oleh babu Sarinah yang itu juga”.

Bung A Hok di pengasingan Mako Brimob,

Kini menjadi Indonesia terkesan begitu rumit, dan sepertinya sarat dengan nuansa politis. Apalagi asal usul Indonesia sebelum bangsa-bangsa Eropa hadir di wilayah nusantara belum selesai diungkap.

Jejak-jejak Kelenteng Cing An Kuo di Lasem bercerita tentang musik gamelan yang dimainkan pada setiap perayaan hari besar Islam Jawa dan hari besar religi etnik Tionghoa di kelenteng tersebut. Ukiran pohon Kalpataru di Tuban, yang konon dibuat oleh Sunan Bonang menatah relief tempat-tempat ibadah berbagai agama yang hidup berdampingan di periode akhir kekuasaan Majapahit.

Pun Datuk Sintai, pelaku syiar Islam di Jambi adalah etnik Tionghoa pendiri kampung Pacinan di sana. Sepertinya dosa kolonialisme tak terampuni untuk penciptaan segregasi dan diskriminasi etnik yang membekas dan kuat berkembang sebagai logika berpikir politik masa kini.

Bung, tetaplah kuat, tetaplah bekerja, membaca dan menulis seperti juga kekaguman Chairil Anwar kepada para pemuda pejuang di dalam puisi yang sama:

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Anom Astika

(gerpol)