Saat Jabat Menteri, Anies Berikan Proyek Besar ke Lingkaran Hary Tanoe

1000722
Hary Tanoe dan Anies Baswedan

Pengecekan ke Berita Negara (Perum Percetakan Negara RI) menunjukkan bahwa perusahaan penerima proyek pelaksanaan distribusi Kartu Indonesia Pintar (KIP) pada masa Mendikbud Anies Baswedan adalah kader senior partai politik Perindo, yang didirikan oleh Hary Tanoesoedibjo.

PT Satria Antara Prima adalah satu dari dua pemenang tender proyek KIP yang 99,5% sahamnya dimiliki oleh Budiyanto Darmastono, Ketua DPP Perindo bidang pendidikan. Budiyanto beralamat di Jl. Ophir I/No. 6, dan memiliki NIK: 3173070504670006.

Kenapa distribusi KIP kepada siswa-siswi kurang mampu ini harus dilakukan oleh perusahaan swasta? Bukankah ada PT Pos Indonesia yg punya cabang di seluruh Indonesia? Bukankah bisa langsung melalui sekolah-sekolah? Seorang dirjen sebenarnya pernah mengusulkan kepada Anies, yang saat itu Mendikbud, untuk menunjuk PT Pos, tapi ditolak karena Anies ingin ada proses tender. Dan muncul lah PT Satria Antara Prima sebagai salah satu dari dua pemenang.

Baca:

  • Sandiaga Uno, Cawagub Anies Terlibat Penipuan Proyek Minyak
  • Ketua KPK Sebut Kasus Lebih Besar dari E-KTP, Ternyata Over Budget Kemendikbud Era Anies 23.3 Triliun!

Banyak masalah dan pelanggaran yang terjadi dalam proses distribusi. Di beberapa daerah penyaluran KIP dilakukan melalui partai Perindo. Banyak pihak yang seharusnya menerima tapi tidak terima, sementara yang seharusnya tidak terima malah terima.

Selain sebagai pemegang saham, Budiyanto Darmastono, yang lahir pada tanggal 5 April 1967, juga menjabat sebagai direktur perusahaan Satria Antara Prima, yang mengalami peningkatan modal disetor 10 kali lipat menjadi 30 milyar rupiah tidak lama setelah mendapat proyek distribusi KIP oleh Kemendikbud pada April 2016.

Dengan track-record seperti ini, apakah kita patut percaya kepada Anies untuk meneruskan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) pemprov DKI?

Dan melihat dekatnya hubungan Anies-Hary Tanoe plus ambisi Hary Tanoe untuk nyapres di 2019, apakah ini berarti Gerindra dan Prabowo dalam Pilkada Jakarta hanya sedang digunakan?

(kompasiana/gerpol)