Tanggapan Terbuka Untuk Eep Saefulloh Fatah

2139
Eep Saefulloh Fatah (duduk kedua dari kiri) tertutup tangan tokoh Wahabi Zaitun Rasmin, bersama Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Bakhtiar Nasir (GNPF-MUI), Al-Khaththath, Sekjen FUI

Issue agama memang menjadi primadona dalam masyarakat yang memang “mabok agama” jadi justru terbalik, jika Eep menuding pendukung Ahok “cengeng soal agama” saya sebaliknya menuding Eep Saefulloh Fatah dan para pendungkung Anieslah yang cengeng soal agama, argumentnya bisa saya tulis dengan bahasa yang sederhana;

Pertama, Anies terutama consultant politiknya tidak punya cara lain untuk bisa menahan laju dukungan dari pasangan Ahok & Djarot yang secara jelas sulit di bendung, mengapa karena Ahok & Djarot lebih fokus pada program kerja, bukan pada hal-hal yang sifatnya personal (PRIVATE) macam agama, sehingga mereka tidak ada waktu sama sekali untuk mempersoalkan Anies yang SYIAH dan Uno yang ngga jelas pandangan agamanya, bisa jadi Uno masuk dalam kategori Islam KTP macam saya.

Kedua, Menjadikan agama sebagai alat pukul adalah cara yang paling menjijikkan dalam kontestasi Demokrasi walaupun dalam demokrasi itu sah-sah saja, disinilah Eep Saefulloh Fatah sedang bermain diatas bara, api kebencian dan perpecahan sekaligus sentiment agama memang dengan mudah sukses mengaduk-ngaduk ketakutan, sekaligus keresahan dalam alam bawah sadar bangsa ini yang memang di dominasi oleh agama. Jika itu di cap sebagai stategy maka secara pribadi saya mengatakan bahwa anda adalah salah satu tokoh sekaligus Intelektual SAMPAH, dimana kontestasi Demokrasi dipahami sebagai arena pertarungan menang dan kalah belaka, bukan sebagai sarana mendidik public dengan cara-cara beradab dalam mencapai kemenangan.

Ketiga, paradigma “Yang Penting Menang” apapun cara akan ditempuh dengan resiko apapun adalah strategy yang justru berpotensi merusak apa yang sering di kampanyekan oleh Anies Baswedan sebagai “Tenun Kebangsaan”, sebuah penghianatan Intelektual atas apa yang selama ini dia perjuangkan.
Ke empat, Jika anda muak dengan cara pendukung Ahok dalam menangkis Issue sampah macam “penistaan agama” yang secara terstruktur dan teroganisir anda alamatkan ke Ahok, maka saya pun muak dengan siapapun dibelakang team pemenangan Anies & Uno, termasuk saya sangat MUAK dengan anda sebagai consultant politik yang menggunakan cara-cara sampah dalam mencapai tujuan-tujuan politik, salah satu cara sampah yang sukses anda jalankan adalah kampanye dalam masjid, ini adalah pembajakan serius oleh mereka yang memang punya basic pemahaman demokrasi, apalagi pernah belajar di salah satu universitas ternama di US dimana saya menilai bahwa anda menggunakan stategy ala US untuk mempengaruhi warga Jkt agar tidak memilih calon yang penista macam Ahok.

Kelima, yang berkutat pada soal-soal agama justru anda sendiri, karena sedari awal anda menyadari bahwa hanya lewat issue agama Ahok bisa diruntuhkan, karena pintu lain jelas sudah tertutup rapat, Issue sumber waras, reklamasi teluk Jkt, korupsi E-Ktp semua tidak mempan, karena memang Issue korupsi membutuhkan pembuktian, sementara issue “Penistaan Agama” sebaliknya tidak butuh bukti, cukup mainkan propaganda massive disemua media dan ternyata issue penistaan agama sangat ampuh.

“Begini cara kita melihat isu agama itu secara tak cengeng.
Jika dalam kontestasi berhadap-hadapan kandidat lelaki vs perempuan maka isu gender naik ke atas permukaan; kandidat dari suku ttt vs dari suku yang lain, isu kesukuan mencuat ke atas; kandidatnya beda agama maka isu agama mencuat. Ini sangat biasa dalam semua kontestasi di seluruh dunia. Kita sebut ini sebagai isu kontestasi antar-golongan. Isu itu menjadi lebih intens jika isu kontestasinya berubah menjadi kontestasi mayoritas vs minoritas. Sentimen mayoritas gampang tersulut dan kalangan minoritas yang terdesak harus “kreatif” untuk bisa memenangkan kontestasi itu. Apakah ini persoalan khas Indonesia?” ~ Quote Eep Saefulloh Fatah

Sengaja saya mengutip argument Eep secara untuh dengan alasan mempermudah saya maupun pembaca untuk mencerna maksud dibalik setiap kalimat yang tertulis, sekali lagi saya ingin menulis tanggapan dengan menggunkan point;

Pertama, Soal cengeng sudah saya jelaskan pada argument saya pada kalimat pembuka, saya ingin fokus menjelaskan dimana letak fallacy yang seolah-olah terdengar intelek, namun sebenarnya sangat tidak intelek bahkan bagi saya argument yang ditulis oleh Eep lebih pada pembodohan, karena sekali lagi memainkan issue-issue usang macam Minoritas Vs Mayoritas, atau Suku A vs Suku B, atau Gender A vs Gender B, atau Issue Muslim vs Non Muslim, atau Issue Pribumi vs Non Pribumi.

Begini Eep, sebelum saya menanggapi satu persatu dimana letak fallacy dari setiap argument yang anda tulis, saya ingin menjelaskan soal latar belakang mengapa semua manusia diatas planet ini sama, artinya datang dari sumber yang sama yaitu homo sapiens anda dan saya adalah ras homo sapiens, bukan ras pribumi, bukan ras Muslim, bukan ras Mayoritas, bukan Ras China, bukan pula Ras Indonesia, kita sama-sama ras manusia yang muncul secara gradual 200-300 ribu tahun yang lalu di benua Africa dan itu adalah scientific FACT, tidak bisa dirubah oleh polling ala POLMARK.

Berpijak diatas fakta science diatas, Issue yang anda mainkan bagi saya tidak lebih dari pada pembodohan dan manipulasi gaya Intelektual moron yang tidak peduli sama sekali dengan kebenaran, mereka hanya peduli pada hasil; ketika hasilnya menunjukkan positive sesuai dengan target kepentingan, maka itulah yang di eksploitasi at any cost.

Tapi anda lupa, bahwa ternyata manusia yang hidup dinegara ini tidak sebodoh dan secengeng asumsi anda, lihat saja bagaimana respond dari mereka yang sadar bahwa kekalahan Ahok adalah fakta empiris yang tidak bisa dibantah, namun apakah mereka cengeng seperti tudingan anda sejak awal, no justru faktanya terbalik; sikap terbuka mereka dalam menerima kenyataan dengan mengirim karangan bunga adalah antitesa dari strategy pembodohan yang anda lancarkan secara massive dengan menggunakan issue sampah macam agama.

Kedua, Jika klaim anda bahwa dengan mengekploitasi agama adalah cara yang “KREATIF” saya justru punya pandangan sebaliknya, cara anda menunggangi agama membuktikan bahwa anda adalah konsultan yang “Kere” tapi “Aktif”, inilah perbedaan serius dari mereka yang bermimpi bahwa suatu waktu Demokrasi Indonesia tidak diracuni lagi oleh sentiment-sentiment sempit macam agama, suku dan warna kulit, ras, gender, etc. Tapi lebih pada kontestasi atau adu kecerdasan visi lewat ide-ide brillian dalam membangun Indonesia, buka ide-ide “Kere” tapi “Aktif” macam agama dengan membajak rumah ibadah sebagai sarana kampanye yang itu jelas bukan hanya menabrak etika dalam berdemokrasi yang sehat, tapi menabrak akal sehat bangsa ini.

Strategy yang anda lancarkan bagi saya sangat “BIADAB” bagi orang yang mengklaim belajar theory-theory Demokrasi tapi mempraktekkan cara-cara unfair dengan menyulut kemaraham orang-orang bodoh yang mabok agama dimana sara ketakutan mereka di telanjangi secara tidak beradab, terror-terror Islami macam tidak akan dikuburkan jika memilih si kafir, dan Almaidah 51 sebagai mesin perang effektive untuk menghancurkan mereka yang tidak seIman.

Terakhir, jika tanggapan saya ini sampai dan dibaca langsung oleh Eep Saefulloh Fatah, maka saya dengan senang hati tertarik untuk mendiskusikan secara terbuka dan FAIR not FEAR atas apa yang saya tulis, sesuai dengan motto dan slogan saya selama ini;

“Saya hanya bertanggungjawab pada apa yang saya tulis, bukan pada apa yang anda rasakan atau mengerti”.

Andi Safiah

(gerpol)