Waspada! Khilafah Adalah Kendaraan untuk Nyolong Kekayaan Alam di Indonesia (bag 1)

1265
NKRI Harga Mati

Kondisi negara kita saat ini meniru pola yang terjadi di Suriah sebelum perang. Ingat propaganda negatif tentang Basshar Al Assad (yang juga disebarkan BBC, CNN, Al Jazeera), lalu pengumpulan donasi untuk membantu korban perang? Denny Siregar (DS) sudah melihat gejala ini sejak 2011 tapi banyak yang tidak percaya. Malah dia dibilang kafir dan banyak yang mau penggal kepalanya sampai dia gak pernah kasih tahu orang alamat rumahnya. Takut anak istrinya diapa-apakan.

Ahok adalah martir. Tujuan akhir ya Jokowi. Tapi hikmah dari kasus Ahok adalah  masyarakat awam jadi mulai melek politik, peduli dengan apa yang terjadi, dan mulai mengerti bahwa kita perlu kawal Jokowi supaya di sini tidak kejadian seperti di Suriah.

Kejadian Suriah itu juga membawa hikmah bagi kita untuk belajar dari kesalahan mereka. Semua yang terjadi di Suriah sebelum perang sudah kelihatan terjadi juga di sini. Misalnya, saat demo 411 tahun lalu, kalau Jokowi, Polri dan TNI gak main cantik, demo 411 itu bisa jadi trigger untuk kejadian seperti di Suriah.

Alhamdulillah Jokowi, Polri dan TNI tetap tenang dan menunjukkan simbol-simbol komunikasi bahwa mereka “mendukung” demo, padahal itu adalah cara mereka supaya lawan berpikir kalau mereka kawan.

Sebagai presiden, Jokowi memang nekat, dan menurut DS, Jokowi gak pernah menunjukkan emosinya. Istilah DS “Jokowi bukan cool, tapi terlalu dingin” 😀

Yang mau menguasai Indonesia ini memang kaum yang punya utopia mau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Tapi sebenarnya ada banyak pihak yang menunggangi mereka, jadi bukan cuma sekelompok orang tertentu saja yang ingin negara ini kacau, tapi juga negara-negara lain (negara tetangga misalnya) yang khawatir Indonesia jadi besar (terutama secara ekonomi) dan negara-negara atau pihak-pihak yang mau memanfaatkan sumber daya alam kita.

DS bilang Jokowi kan pernah bilang kalau sumber daya alam Indonesia ini bisa jadi petaka buat kita, karena banyak yang ngincer. Jadi banyak pihak yang saling tunggang menunggangi. Dan mereka mau pakai beberapa isu, seperti:

1) Sunni vs Syiah

2) Islam vs non Islam

3) islam vs PKI

4) pribumi vs non pribumi

Pendukung gerakan-gerakan ini dananya luar biasa besar, triliunan rupiah, dan mereka sabar, mainnya pelan-pelan. Dari tiga pilar agama Islam di Indonesia, dua sudah mereka kuasai: MUI dan Muhammadiyah. NU memang belum, tapi NU sudah mulai terpecah internalnya, kecuali Anshor yang masih solid.

Tips DS: kalau pilih pemimpin, pilihlah yang tidak didukung PKS. Jangan pilih calon yang didukung PKS.

Menurut DS, NU kalau berhasil disusupi juga oleh Islam radikal, habis lah kita. NU kan ada sekitar 80 juta pengikutnya. Makanya selain Jokowi, NU inilah yang juga perlu kita kawal.

Memang cara radikal itu menyusup lewat dana ke pesantren, mesjid, dan yayasan-yayasan amal Islam karena mereka itu memang butuh dana. Karena itu DS sarankan juga untuk kita dukung dan jaga NU karena selama ini negara telah mengabaikan mereka padahal mereka inilah mayoritas Muslim di Indonesia.

Gerakan radikalisme yang ditunggangi ini dianalogikan DS seperti kanker, menyusup pelan-pelan. Buktinya sudah dibiarkan, bahkan dipelihara, selama 10 tahun lebih oleh pemerintah (terutama di era SBY). Jadi sekarang seperti kanker stadium 3. Kalau diingat beberapa kejadian di rentang 2015-2016 di Tolikara, Singkil, lalu ketika teroris Santoso dianggap mati syahid (untuk mengirimkan pesan bahwa Santoso dipuja Muslim karena melawan Kristen), kisah gembong narkoba Freddy Budiman, pembakaran vihara, lalu Ahok.

Dengan adanya kasus Ahok, banyak orang yang jadi makin melek politik, mulai bangkit semangatnya buat bela negara. Makanya dia bilang Ahok itu martir, tujuan perantara saja.

Di Indonesia ini memang sejak dulu ya isu yang bisa dimainkan adalah agama. Dia bilang Eep sebagai profesional tahu sekali soal itu, jadi katanya kalau negara kita kacau seperti Suriah, itu salah orang-orang seperti Eep yang gunakan itu untuk pecah belah kita!

DS kutip hadits Nabi soal perang akhir jaman, dan inilah yang sedang kita hadapi sekarang dengan kejadian di Suriah misalnya. Banyak orang yang menyebarkan fitnah, dan ini kita melawan bangsa kita sendiri, bukan melawan penjajah dari bangsa lain.

DS cerita kisah Nabi waktu bagi-bagi harta pampasan perang di Mekkah, lalu ada satu orang yang protes bilang Nabi gak adil. Kata DS, di hadits dijelasin ciri-ciri orangnya: jenggot panjang dan dahinya kapalan [KAUM SARUNGAN VS KAUM GAMIS – Denny Siregar].

Kalau lihat skala dunia, memang target Islam radikal ini dua negara: Turki dan Indonesia. Sekarang Turki sudah kena (2016), dan berikutnya targetnya kita (Indonesia, 2019). Fitnah akan disebarkan kalo Jokowi itu PKI, dan itu bisa akibatkan kudeta bahkan sebelum 2019.

Katanya sih Kapolri Tito dan Panglima TNI Gatot masih jagain Jokowi banget. Mereka gunakan simbol-simbol komunikasi, contohnya waktu ada demo di Monas: para polisi zikir dulu, trus Gatot pakai kopiah putih. Sebenarnya waktu dia pakai kopiah putih itu dia mau sampaikan pesan kalo dia bagian dari mereka.

DS bilang demo 411 itu sebenarnya bisa bikin perang mulai berkobar, kalau saja tidak diantisipasi oleh pemerintah dibantu TNI dan Polri.

Sebagai pemimpin, Jokowi sebenarnya pintar, tidak tertebak. Berbeda gayanya dengan Ahok yang gak bisa jaga emosi (istilahnya kalau main layangan, Ahok narik terus, sedangkan Jokowi tarik ulur).

DS bilang kalau donasi-donasi yang dikerahkan untuk Suriah itu sebenarnya digunakan buat mendanai perang di sana, bukan buat anak-anak korban perang. Jadi kita juga ditipu sama donasi semacam ini. Kabarnya soal aliran dana donasi ini sedang diperiksa polisi. Tapi sudah berjalan selama 5 tahun, dan baru sekarang polisi menginvestigasi. DS bilang mereka yang melakukan pemanfaatan donasi itu sebagai iblis yang berbaju ulama. (bersambung)

Diskusi bersama Denny Siregar di Dharmawangsa 16 Mei 2017

(gerpol)