Waspada! Khilafah Adalah Kendaraan untuk Nyolong Kekayaan Alam di Indonesia (bag 2)

1150
NKRI Harga Mati

Kita juga harus hati-hati dengan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang katanya dibentuk sejak 2013 di mesjid kecil di Cijagrak Bandung dengan dana yang luar biasa besar. Dalam sehari, gerakan ini bisa memunculkan 2-3 jaringan di seluruh Indonesia (kan tidak mungkin kalau uangnya gak banyak). Padahal Syiah di Indonesia jumlahnya kecil banget dan bahkan tidak terdeteksi. Jadi tujuan mereka memang mau bikin stigma bahwa Syiah harus diperangi (“darah Syiah halal hukumnya”).

Stigmanya dibentuk pelan-pelan seperti dulu jaman Orde Baru yang bikin stigma soal PKI. NU akan distigmakan juga sebagai Syiah. Quraish Shihab dan Said Aqil Siradj kan sudah dituduh Syiah juga.

Tadi aku nangis denger DS cerita anaknya waktu kelas 1 SMP di sekolahnya (sekolah Islam) dibagikan buku “Kesesatan Syiah”. DS marah sekali karena “anak SMP mustinya dikenalin ke cinta bukan kebencian kepada sesama”.

Jadi, salah satu tips nya DS lagi: jangan tertipu sama ajaran-ajaran berkedok agama di sekolah seperti ini.

Dia sebut ada pesantren yang akhirnya berubah radikal karena penyumbang dana memasukkan orang mereka ke situ dan mulai memengaruhi pesantren. Tapi pesantrennya gak bisa apa-apa karena tergantung pada dana dari si donor. Satu lagi yang kita belajar dari Suriah: konsep ulama direbut dan diklaim sama mereka, sementara para ulama yang lama (senior) dirusak reputasinya.

DS bilang “ketika Muhammadiyah meninggalkan Buya Ma’arif, di situlah saya tahu kalau Muhammadiyah sudah disusupi.”

Ulama-ulama baru yang bermunculan ini terkoneksi dengan ulama-ulama di luar negeri. Tadi DS bilang kenapa kita perlu jagain NU karena Pancasila dan NKRI itu sudah terbukti ada di orang-orang NU (itu sudah jadi bagian dari keimanan warga NU).  Jadi sebenarnya mereka itu sudah gak usah lagi diajakin bela NKRI.

Contoh lain: tahun 2013 di mesjid di Sentul juga sudah mulai ada ajakan perang sama Syiah. Cuma karena waktu itu orang belum banyak yang paham Sunni vs. Syiah, jadi ajakannya belum banyak disambut. Di Indonesia (sebenarnya) gak di kenal konflik Sunni – Syiah, karena Islam di Indonesia masih tradisional.

Makanya mereka pakai isu lain: Cina vs. Non Cina (Pribumi vs. Nonpribumi), PKI atau Islam vs Kristen. DS bilang kita harus berterima kasih kepada Ahok karena setelah kasus Ahok ini, DS jadi tahu dimana “mereka” selama ini bersembunyi dan bisa mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Misalnya, kita jadi tahu strategi mereka yang gunakan jaringan mesjid.

Jadi kaum radikal menunggangi rakyat bawah, padahal mereka juga (mungkin tanpa mereka sadari) juga ditunggangi oleh negara-negara lain atau kekuasaan yang lebih besar.

Soal Islam fundamental dan tradisional (dua kekuatan di Indonesia): baca artikel DS ttg kaum sarungan vs kaum gamis

DS bilang salah satu kesuksesan Jokowi adalah ketika kemarin Indonesia Timur gak bergejolak setelah Ahok divonis bersalah. Mereka malah galang dukungan bantu jaga NKRI. Ini buah dari Jokowi yang bangun kawasan Indonesia Timur dengan infrastuktur seperti Trans Papua dll

Balik dikit ke Turki, kalau dilihat, kaum radikal ini menguasai Turki cuma dalam waktu 3 tahun, mulai 2013 di Mesir (Ihwanul Muslimin) dan Turki di 2016.

Strategi yang dipakai menjatuhkan Turki: berdiri di belakang tokoh yang delusional mau pegang kekuasaan seumur hidup dan menjanjikan kekuasaan ke orang itu (Erdogan di Turki).

Ihwanul Muslimin ini katanya akan menyasar pemimpin yang lemah secara karakter, yang takut kehilangan suara karena dia gak punya apa-apa untuk ditawarkan, jadi radikalisme dipelihara (didanai) untuk meperoleh suara (didanai). Sama seperti orang yang memelihara kemiskinan.

Dia kasih contoh Kementerian Kominfo sewaktu menterinya menginstruksikan untuk menutup akses Internet ke portal-portal Islam radikal, sudah tidak ada artinya karena anak-anak buah si Menteri sudah bocorkan infonya dan mereka langsung ganti nama website-website tersebut.

Jokowi jadi sulit gerak karena walaupun menteri-menteri diganti, orang-orang di kementerian itu sudah mereka kuasai dan orang-orang ini yang menguasai hal-hal teknis, jadi walaupun menteri kasih perintah, bisa juga tidak didengar. Mereka sudah mengakar, sejak 1998 setelah Reformasi.

Harusnya, kata DS, pemerintah bukan cuma membubarkan HTI – yang atas desakan Ansor – tapi juga melarang atau membekukan ideologinya, seperti PKI dulu.

Indonesia Khilafah itu cuma kendaraan saja. Yang diincar ya sumber daya alam kita. Teten Masduki salah satu tokoh yang sukses disebut PKI. Jadi sekarang apa-apa yang terjadi di negara ini akan dibikin semua salah Jokowi (SALAWI – salah Jokowi). (selesai)

Diskusi bersama Denny Siregar di Dharmawangsa 16 Mei 2017

(gerpol)