HTI Menyulut Api Kebencian di Jantung Republik (Membongkar Makar Ikhwanul Muslimin Bagian-6)

1001266
Eep Saefulloh Fatah (duduk kedua dari kiri) tertutup tangan tokoh Wahabi Zaitun Rasmin, bersama Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Bakhtiar Nasir (GNPF-MUI), Al-Khaththath, Sekjen FUI

HTI Menyulut Api Kebencian di Jantung Republik

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah lama masuk dalam radar gerakan radikal di Indonesia. Bersama PKS, HTI laksana burung Ikhwanul Muslimin, satu tubuh dengan dua sayap. Satunya berjuang didalam sistem demokrasi, sementara HTI menempuh jalur kontra demokrasi untuk menjaga nilai-nilai Khilafah Islamiyah tetap hidup dan tidak terseret jika ternyata PKS tidak mampu mengemban misi suci mereka di dalam sistem.

Baca: Membongkar Rencana Makar Ikhwanul Muslimin: Eep Sang Boneka (Bagian-1)

Eep keluar dari gerbong Jokowi membawa peta kekuatan istana, serta peta relawan disekitarnya. Termasuk peta konflik Teuku Umar dan Cikeas. HTI sudah lama menjalin hubungan yang cukup rapat dengan SBY. Posisi PKS mendukung Pemerintahan SBY, memungkinkan kader-kader HTI melakukan infiltrasi diberbagai lembaga pemerintah. Jalur Komunikasi dan Distribusi pupuk dan bantuan pertanian adalah incaran kader mereka. Lalu dengan konsep perbankan Syariah mulai masuk menguasai sector Perbankan. Begitu juga dengan jaringan Pelayanan Kesehatan serta infrastruktur sosial yang diakui pemerintah seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahkan mereka secara tersamar sudah menguasai struktur bawah organisasi Islam terbesar NU dan Muhammadiyah.  Target mereka adalah muktamar sebelum 2019, struktur pemungutan suara di internal NU dan Muhammadiyah sudah dikuasai oleh mereka.

Ini dimulai dari unit-unit terkecil NU dan Muhammadiyah di Masjid-masjid dan Mushollah, juga kampus. Sebagian organisasi sayap ormas tersebut bahkan sudah mulai dalam pengaruh kekuasaan mereka. Salah satunya adalah dengan terpilihnya Dahnil Anzar Simanjuntak menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang notabene adalah pendukung Gatot Pujo Nugroho di Sumatera Utama, yang belakangan sangat kuat mendukung Anies-Sandi, bahkan rela melakukan pembusukan terhadap Buya Syafii Maarif tokoh kharismatik yang dihormati banyak orang. Untungnya Muktamar NU dan Muhammadiyah bisa diamankan, meski Muktamar NU sempat mengalami goncangan, namun akhirnya bisa diamankan.

Baca: Membongkar Rencana Makar Ikhwanul Muslimin: Eep dan PKS Duri dalam Daging (Bagian-2)

Pihak Densus sendiri sudah mencium infiltrasi kelompok-kelompok radikan ini sejak lama. Karenanya menjelang aksi 411, salah satu mantan Kadensus dijadikan sebagau stafsus Bidang Intelijen oleh Jokowi. Kapolri dijabat oleh Tito Karnavian juga dari latar belakang Desk Anti Teror, belakangan beberapa Kapolda juga dijabat oleh figure dengan latar belakang Kontra Terorisme.

Baca: Membongkar Makar Ikhwanul Muslimin: PKS dan Eep Meninggalkan Jokowi, Menyingkirkan Sandi (Bagian-4)

HTI menjadi motor utama strategi jiplakan dari Partai FIS yang disebutkan Eep dalam sebuah rekaman video. Kebencian dengan menjadikan Ahok sebagai sasaran kemarahan,  semakin tidak masuk akal. Itulah model gerakan Ikhwanul Muslimin hampir disemua negara. Mereka melakukan dekontsruksi bahkan menghancurkan tradisi-tradisi dengan menyebutnya Bid’ah. Ikatan-ikatan sosial yang beratus tahun lamanya, direnggangkan dengan berbagai fitnah berdalil agama. Di internet orang kesulitan mencari referensi yang jernih, karena strategi online sudah lama mereka siapkan. Terlebih beberapa ulama sinetron telah mendapatkan rating cukup tinggi di Televisi. Juga di media sosial seperti Facebook, Felix Siaw sudah menjadin idola pengguna Facebook Indonesia.

HTI sudah kenyang dengan referensi sebagai Minoritas Kreatif. Teknik adu domba sudah menjadi modul pengorganisasian mereka. Taktik merayu elit dan ulama-ulama terkenal, bagaimanapun popularitas memiliki rasa haus yang tak terbatas. Tentu setiap ulama juga ingin menikmati kue kekuasaan sebagai tokoh politik, yang tidak hanya punya kekuatan menganjurkan, naun juga otoritas untuk mengatur negara. Tinggal memastikan langkah terakhir dari fase kudeta, yakni infiltrasi ditubuh angkatan Bersenjata. Polri tidak mungkin, Tito pasti mencium langkah mereka. Tidak mudah melakukan infiltrasi ke tubuh TNI, namun ada pihak yang ahli untuk itu. Mereka berhasil menggulingkan Soekarno dengan menciptakan suasan perpecahan dan saling mencurigai di dalam negeri. Tidak sulit mengajak Amerika Serikat terlibat dalam konspirasi ini. Apalagi Jokowi sedang mesra dengan China serta juga Arab Saudi. Ini tentu mengganggu pengaruh Amerika di kawasan Pasifik.

Baca: PKS dan Eep: Menggandeng HT, Mengkhianati Prabowo (Membongkar Makar Ikwanul Muslimin Bagian-5)

Mulailah langkah kudeta disiapkan, isu untuk membelah-belah ikatan sosial dan memecah masyarakat dalam kotak-kotak politikn identitas mulai dimainkan. Dimulai dengan yang paling mudah: Ahmadiyah dan Syiah adalah isu yang pertama kali dimainkan, pelarangan gereja, penolakan terhadap kaum LGBT, pelarangan buku dan diskusi, Demo Anti Pornografi, Serangan terhadap acara-acara korban pelanggaran HAM, isu kebangkitan Komunis, lalu Pekerja China, Pemimpin Kafir dan terakhir adalah isu Pribumi dan Non Pribumi. HTI tidak muncul langsung sebagai organisasi, namun mendorong organisasi yang telah dikuasai pucuk-pucuk pimpinannya. Makanya agak aneh jika Massa Buruh bersiaga di hari yang sama dengan saat dimana Demo 411 dilangsungkan.

FPI hanyalah organisasi yang genit dan liar, mudah sekali mengajak FPI bergabung, HTI tahu FPI hanyalah segerombolan Preman berjubah yang mengambil keuntungan dari pola gerakan radikal. Namun HTI butuh menyamarkan perannya. Maka Anies yang sowan dan membungkuk mencium tangan Rizieq Shihab ketika berkunjung ke Petamburan. Anies mendorong Rizieq menjadi Pimpinan Umat Islam. Rizieq bukan orang yang sulit untuk dibuang ketika sudah digunakan.

Aksi 411 gagal, justru karena HTI gagal mengendalikan faksi Teroris Garis Keras ISIS yang juga sedang menunggu momentum untuk menciptakan terror. Jokowi sudah mencium hal tersebut. Luhut yang menjabat Menkopolhukam segera diganti oleh Wiranto. Bayangkan jika 411 terjadi kekacauan, dan jatuh korban di tubuh demonstran. Maka Luhut akan menjadi sasaran empuk dengan tuduhan pembantaian umat Islam oleh Menko Kafir. HTI lupa bahwa Rizieq punya catatan criminal yang panjang, dan Kapolri saat ini adalah Tito Karnavian orang yang membongkar dan menangkap pelaku Bom Bali. Dengan mudah Rizieq dijinakkan dan malah hanya dijadikan MC pada kemunculan Jokowi ditengah massa aksi 212. Terlihat ketika Jokowi hanya menyampaikan Pidato singkat, massa HTI terlihat meneriaki Rizieq sebagai pengecut.

Merasa Rizieq sudah tidak bisa digunakan lagi, maka jelas FPU tidak lagi penting, namun Rizieq yang sudah terlanjur keblinger sebagai Pemimpin Umat Islam, harus disadarkan dari maboknya. Lalu mulailah kasus Rizeq terbongkar satu demi satu. Terakhir untuk memastikan Rizieq tidak lagi mengacau, HTI mengupayakan proses hokum berlangsung di Jawa Barat. Tempat basis teritori yang mereka kuasai dengan adanya Aher sebagai Gubernur.

Skenario baru dibangu dengan mendorong Forum Umat Islam (FUI) yang secara organisasi mirip FPI namun lebih punya penguasaan teori gerakan lebih baik dari FPI. Sekali lagi HTI menganggap remeh Tito Karnavian, tepat dini hari sebelum aksi 313, petinggi FUI ditangkap pihak Polda Metro  dengan tuduhan rencana Makar. Banyak orang menganggap ini adalah skenario Polisi atau Jokowi untuk membantu Ahok.

Tidak demikian, karenan makar sejatinya sudah direncanakan oleh HTI. Aliran dana dari tim Anies mulai terendus oleh Polisi. Benang-benang keterhubungan mulai tampak dipermukaan. PKS dan HTI masih punya dua pilihan, terus melanjutkan upaya menjatuhkan Jokowi sekarangm atau dengan pilihan berikutnya, yakni menunggu dan fokus memenangkan Pilkada DKI Jakarta lebih dulu. Terlepas dari itu semua, makar dalam makna yang sebenarnya, menggulingkan pemerintahan dan menggantinya dengan rejim khilafah nyata berlangsung didepan mata. Bisa saja tiba-tiba kita terbangun di pagi hari, membuka jendela dan melihat Ikhwanul Muslimin dan Taliban itu telah memenuhi jalan-jalan kota Jakarta.

Abdulbaki Sahrowi, Pengamat Politik Asia dan Timur Tengah, tinggal di Paris

(bersambung) (gerpol)