Kemenangan SARA yang Hampa yang Terancam Semerbak Harum Bunga

1510

Luar biasa. Mungkin ini Pilkada pertama di Indonesia yang kelompok pemenangnya malah berlaku seperti merekalah yang kalah Pilkada. Mereka ketakutan dan panik harus membela kemenangannya. Bukan karena dianggap melakukan kecurangan suara, ataupun karena ada money politics. Tapi kelompok pemenang berlaku seperti yang kalah hanya karena urusan bunga.

Sampai malam hari tanggal 26 April 2017 begitu banyak bunga yang datang ke Balai Kota DKI Jakarta. Jumlahnya sudah mencapai ribuan. Dan di setiap papan bunga, di setiap kuntum bunganya terkandung doa dari warga Jakarta untuk Ahok-Djarot.

Setiap kuntum bunga di halaman balai kota DKI, membawa rasa terimakasih warga Jakarta atas berbagai kerja nyata Ahok-Djarot yang dalam waktu singkat 2 tahun sudah mengubah Ibu Kota begitu hebat.

Bukan hanya soal fisik Jakarta yang masih berlangsung pembangunannya. Tapi juga dari segi jiwa pelayanan publik, mengubah mentalitas pemda yang dulu terkenal arogan, berubah menjadi melayani rakyatnya. Di masa Ahok-Djarot, rakyat Jakarta jadi punya keberanian melawan oknum-oknum pemda yang nakal, yang mau korupsi, yang beraninya memalak rakyat, dan hanya melayani mafia besar yang menjadi sumber sampingan mereka. Rakyat Jakarta jadi berani karena tahu Ahok-Djarot akan membela mereka melawan oknum-oknum penipu dan penindas rakyat.

Setiap kelopak bunga di halaman Balai Kota DKI, membawa tangis sedih banyak rakyat Jakarta yang masih ingin Ahok-Djarot terus menjadi pelayan mereka. Terus membenahi Ibu Kota yang sekarang sudah minim banjir, minim penyelewengan anggaran, minim tempat kriminal karena sudah diubah menjadi taman ruang terbuka publik.

Baca:

Setiap serbuk bunga di pelataran Balai Kota DKI, mengandung kecemasan bahwa Jakarta yang tadinya sudah membaik akan kembali menjadi tempat para koruptor merajalela, tempat para tukang bancakan anggaran bermain dengan uang rakyat, tempat para preman kembali meneror rakyat seperti yang mulai terjadi di Kalijodo, tempat yang sungguh tidak pantas dipanggil Ibu Kota Indonesia.

Maafkan kami Ahok-Djarot karena ternyata suara kami di bilik pemilihan belum cukup menghantarmu untuk tetap menjadi pelayan Jakarta. Sekarang kami berikan bunga sebagai rasa terimakasih kami atas jasa dan pengabdianmu kepada rakyat Jakarta.

Tidak disangka semerbak harum bunga ini dipandang dan dirasa seperti api panas yang membuat gerah para pemenang. Entah kenapa mereka jadi blingsatan hanya karena urusan bunga. Sepertinya mereka tidak percaya diri dengan kemenangan yang sudah diraihnya. Ajaib bagaimana harumnya bunga bisa menakutkan buat mereka. Mungkin bila ada tuntutan ke MK, tidak segerah ini perilaku mereka.

Sungguh istimewa ketika semerbak harum bunga dapat membuat resah sebuah kemenangan yang hampa.

Ttd

Aisyah Retno Wulandari

Salah satu pengirim bunga yang heran kenapa para pemenang tidak terima kalau Ahok-Djarot dikirim bunga oleh rakyatnya.

(gerpol)